jump to navigation

Seribu Bulan September 15, 2007

Posted by puji sidharta in personal.
trackback

Dulu ketika kecil saya begitu sumringah dengan datangnya bulan Ramadan karena saya  tahu setelah bulan ini akan ada perayaan Lebaran. Lagi pula selama bulan tersebut biasanya Emak selalu masak makanan yang enak-enak. Setelah saya berkerja, waktu itu tahun 1996 seminggu setelah bergabung saya dikirim ke Jambi, tepatnya di daerah Tanjung Jabung. Setiap menjelang buka puasa saya selalu menonoton acara dakwah Pak Zainuddin di tv, perasaan sedih karena tidak bisa berbuka puasa bersama dengan keluarga.

Mungkin bulan akan tetap sama seperti dendang lagu Bubuy Bulan yang sering dinyanyikan bibi saya ketika saya kecil, sambil memandang bulan bulat dengan gambar khayal dipermukaannya seorang nenek dengan seekor kucing, yang banyak disebut masyarakat Sunda dengan Nini Anteh.

Tetapi Ramadhan, bulan sebagai hitungan waktu adalah waktu istimewa setidaknya bagi seorang muslim atau saya dan keluarga. Seperti sumringahnya saya ketika kecil. Sahur pertama semua anak-anak saya bangun. Kata istri saya melalui chatting Sametime; Itsar si kakak bangun lebih awal sekitar jam satu karena bunyi-bunyian yang dipukul orang-orang yang berkeliling di jalan-jalan sekitar rumah. Raya bangun juga, ikut makan mie. Walaupun pagi harinya dia  menghabiskan satu buah mangga.

Tahun lalu saya menghabiskan hampir tiga minggu Ramadan di Ocean General, beruntung pekerjaan kali itu tidak menguras banyak tenaga jadi saya dapat menjalankan puasa. Walaupun siang hari adalah tantangan yang berat karena panas yang terik ditambah dengan tak satu pun dari lebih seratus orang di rig yang berpuasa. Ramadan datang lagi, kali ini si seribu bulan muncul dan tenggelam di depan mata saya berdiri di Vung-tau. Tidak banyak orang yang memandangnya, karena ini bukan bulan yang kasat yang seperti sebagian orang disini rasakan. Bulan mereka sebentar lagi datang, bulan dengan perayaan memakan kue bulan, festival yang asalnya dari negeri China, mid autumn festival.

Tak ada kolak, tidak ada dakwah, tak ada acara-acara tv menjelang sahur. Semua hari sama, semua bulan tidak berbeda kecuali buat orang-orang yang mau mencari apa yang ada dalam bulan ini, Ramadan bulan yang lebih karunia dari seribu bulan.

Komentar»

No comments yet — be the first.